Jumat, 21 September 2012

Cerita Seks : Putri Keraton

Cerita Seks : Putri Keraton

Panas terik di jalan lurus beberapa kilometer memasuki kota Cirebon tidak
menghalangiku untuk terus memacu kendaraan dengan kecepatan cukup tinggi dari
arah ibukota pada siang hari itu.

“..demikian, yach sambil istirahat setelah seharian nyangkul begitu”, suara
centil manja itu memancar dari frekuensi radio komunikasi yang terus kubuka dari
tadi sambil menscan frekuensi yang sedang dipergunakan.

Segera kumatikan modul scan di pesawatku agar tetap dapat memonitor frekuensi
tersebut..

“Jadi sekarang sudah di 85 correct?” suara seorang pria sejurus kemudian yang
meminta konfirmasi apakah sudah ada di rumah
“10-4?, kembali suara manja itu menjawab yang berarti membenarkan
“Wah.. wah.. wah.. wah.. sudah banyak duitnya nich siang begini sudah ada di
rumah”, kembali sang pria menimpali..
“Ya ngga jugalah.. duit mach tetap butuh”.
“Break”, sahutku menyela pembicaraan di antara spasi
“Kirain sudah punya banyak duit.. ya dibagi-bagi ke sini”, sahut pria tersebut
“Mas, ada yang mau masuk tuch silahkan di handle dulu sayanya 10-23 sebentar”,
suara centil manja tersebut menginformasikan kehadiranku kepada rekannya..
“Yang break silahkan masuk”,
“Selamat siang.. di sini Elmo Mas dalam line bergerak menuju Cirebon”, sahutku
segera memperkenalkan diri
“Selamat siang juga yang handle di sini Boom.. darimana hendak ke mana Mas?”
“Dari Kotaraja menuju ke Cirebon gitu”, penjelasanku padanya
“Silahkan dipergunakan frekuensinya mungkin ada sesuatu yang ingin di sampaikan”,
sahutnya memberikan kesempatan padaku
“Oh.. tidak ada Mas cuma ingin nimbrung saja, sehubungan klo ngga ada yang ada
di ajak bicara sayanya suka ngantuk nich”.
“Emang berapa personil di gerobak dan dalam rangka apa nich? Liburan begitu..?”

“Negatif Mas.. dalam rangka dinas begitu dan di gerobak sendiri saja, makanya
perlu teman ngobrol begitu”
“Mas Elmo.. Boom kembali di sana ada lowongan ngga Mas klo ada boleh donk ajak-ajak
saya”, pintanya
“Hmm.. anda itu memakai kacamata ngga? apakah penglihatannya masih cukup jelas?”
tanyaku padanya
“Masih.. masih jelas, tidak memakai kacamata”.
“Pendengaran gimana, baik atau sudah menggunakan alat bantu?”
“Masih baik”.
“Rambut.. apakah sudah memutih?”
“Ya.. Mas, rambut mach masih hitam semua belum ada yang putih umur juga baru
kepala 2?, sahutnya kembali menegaskan
“Berarti masih kuat lari betul?”
“Betul.. ngomong-ngomong mau dikasih kerja’an apa sich koq bertanya begitu..?”
“Lha.. saya ini khan raja maling, makanya saya bertanya itu supaya memenuhi
persyaratan.. mata harus awas, supaya saat kebagian tugas jaga bisa mengawasi
klo-klo ada hansip atau ronda lewat, telinga harus baik biar saat tugas buka
gembok atau kunci tetap bisa mendengar suara klo ada yang mau nangkap, rambut
juga harus hitam biar bisa sembunyi dalam kegelapan ngga ketahuan.. dan terakhir
ya harus bisa lari cepat klo ketahuan.. klo ngga khan ya ketangkep begitu.. dik”
jelasku padanya..
“Hahaha.. hahahaha.. hahahaha..”, suara centil manja itu kembali berkumandang
“Ujug buneeng..”, Boom tertawa kecil juga..
“Ya.., salam kenal juga buat Mas Elmo yang sedang dalam perjalanan hati-hati
semoga selamat sampai di tujuan”, katanya menyalami ku..
“Salam kenal juga semoga sehat selalu.. klo boleh tahu siapa nich yang handle?”
tanyaku pada pemilik suara centil manja itu..
“Di sini Vera gitu Mas Elmo”.
“Vera.. Elmo kembali.., iya dach salam buat keluarga yang di rumah semoga
sejahtera selalu”.
“Mas Elmo kayanya.. humoris yach”.
“hahaha.. yach tergantung situasi begitu neng Vera, kadang serius kadang
bercanda juga, klo serius terus mach bisa mati muda nanti”
“Berapa lama begitu Mas di kota udang?”
“Rencana sich cuma seminggu aza, .. tapi lihat nanti aza dach”.
“Sudah sering ke Cirebon gitu Mas Elmo?”

“Jarang juga.., .. ngomong-ngomong apa yach makanan yang khas dan enak gitu?”
“Hmm.. di sana ada nasi lengko, ada juga nasi jamblang.. trus empal gentong juga
enak.. sama tahu gejrot dach”, sahutnya berpromosi
“Klo siang-siang begini enaknya makan apa yach..?”
“Itu aza Mas Elmo.. nasi lengko yang ada di xx”, informasinya..
“Terimakasih atas informasinya.. mau ikut menemani?” ajakku padanya
“Lain kali dech Mas Elmo.. sekarang sich saya sedang sibuk”.
“Oh ya sudah.. mudah-mudahan lain kali kita bisa kopi darat begitu”.
“Harapan Vera juga begitu yach.. hati-hati sajalah.. jadi makan siang di sana?”
“Yup, .. dan terimakasih nich atas obrolannya siang hari ini yang telah menemani
saya hingga masuk ke Cirebon”.
“Sama-sama.. Vera juga senang bisa ngobrol dengan dirimu dan silahkan masuk ke
frekuensi ini lagi klo ada waktu”, ajaknya manja..

Demikianlah sepenggal pembicaraan siang hari itu, dan sesungguhnya apa yang
dikatakan Vera itu tidaklah salah memang tempat makan yang ditunjukkan adalah
favoritku juga dan itu tidaklah asing oleh karena cukup sering saya mengunjungi
kota Cirebon ini.

“Nasi lengkonya 1 porsi Mas”, pintaku di pintu masuk sesaat setibanya di sana
Kemudian kupilih salah satu meja yang kosong di tengah
“Minumnya apa Mas Elmo?” tanya suara halus dari belakang

Kontan saja aku terkejut oleh karena tidak banyak yang mengenal namaku demikian
dan dalam diamku kemudian dia menyodorkan tangannya

“Vera”, seraya tersenyum manis
“Oh.. ugh.. oh”, aku tergagap mendapat kejutan seperti itu

Sungguh tak ku kira kini di hadapanku hadir seorang wanita berkulit putih dengan
rambut tergerai sedikit melewati bahu dan postur tubuh yang cukup tinggi untuk
ukuran orang Indonesia namun berimbang.

“Koq.. bengong aza”, ujarnya mengingatkanku
“Abis.. ada bidadari sich.. yuk silahkan duduk”, sahutku seraya menggeser tempat
duduk dan mempersilahkannya untuk berada di sampingku

“Koq tahu mengenai aku?” tanyaku setelah dia duduk
“Yach khan katanya jadi makan di sini terus tadi aku sudah tiba duluan dan lihat
mobil kamu yang lengkap dengan antenenya trus plat nomornya juga B”, sahutnya
seraya memonyongkan bibir tipisnya..

Demikianlah siang itu akhirnya aku makan siang bersama dengan”Vera” yang hingga
usai santap siang tersebut belum bersedia untuk mengungkapkan nama sebenarnya
dan akupun tidak memaksanya, sebaliknya saat dia minta no HPkupun tidak
kuberikan.. wah bisa berabe boo, kalau pas dia telp nantinya pada saat aku
bersama istriku.. bisa perang dunia.. namun aku informasikan di mana aku
bermalam nantinya.

Begitulah, ketika jarum jam menunjukkan pukul 23. 15 telp di kamarku berdering,
ternyata Vera yang menghubungiku.. dan membuat janji untuk kembali berjumpa esok
harinya..

Tanpa terasa beberapa hari telah berlalu dan hampir setiap santap siang
kulakukan bersama dengan Vera, sedangkan malam hari tidak kulakukan sehubungan
dengan tugas yang harus kukerjakan bersama anak buahku untuk mengunjungi klien.
Pekerjaankulah yang menuntut demikian, yaitu sebagai sales manager dari sebuah
perusahaan farmasi sehingga pada malam hari aku harus mengunjungi dokter dan
berbicara banyak mengenai produk dan hal lainnya, terkadang baru usai lewat
tengah malam terutama bila harus berkunjung kepada dokter yang memiliki pasien
banyak sehingga baru usai pada dini hari.

“Kapan kau kembali?” tanyanya suatu saat setelah beberapa hari ini kita hampir
selalu makan siang bersama
“Lusa nich, besok masih masih ada beberapa urusan kantor lagi yang harus
kukerjakan”, sahutku
“Oh..”, ada nada kecewa yang dapat kutangkap..

Entah tanpa terasa dalam waktu yang demikian singkat hubunganku dengan Vera
nampak sangat akrab dan dekat sekali, walaupun sesungguhnya akupun masih gelap
mengenai kehidupan pribadinya yang kutahu hanya sosok dia yang aku kenal apa
adanya tanpa melihat kehidupan pribadinya sebaliknyapun demikian, ..

“Nanti malam masih kerja juga?” tanyanya masih ada nada protes

Hgh.., aku terhenyak dengan pertanyaan semacam itu yang menurutku sudah terlalu
dalam terbawa emosi

Sambil tersenyum menggoda

“, Kenapa.. mau ngajak kemana emangnya?”
“Jalan yuk..”, ajaknya
“Kemana..?” tanyaku
“Ada waktu ngga?”
“N’tar malam begitu?” tanyaku bingung
“Iyalah.. emangnya kapan lagi?”
“OK.. aku jemput di mana nich?” tanyaku kemudian..
“Hmm di sini dech.. jam 5′an yach”, jawabnya seraya menulis suatu tempat di atas
kertas yang kemudian di serahkannya padaku.”.Nanti tunggu aza di halaman parkir
ngga usah masuk”, pintanya kemudian

Ternyata tempat yang diberikan adalah nama sebuah bank pemerintah yang cukup
besar di kota ini, entah apa jabatannya di sana namun penekanannya yang terakhir
memberikan arti bahwa dia adalah salah seorang karyawan di sana.
Sekitar jam 5 sore aku telah tiba di tempat kerja Vera dan lahan parkir sudah
cukup lenggang, kemudian aku parkir di tempat teduh yang agak terlindung dari
pandangan pos satpam maupun pintu keluar masuk gedung tepatnya dekat dengan
bilik ATM sehingga tidak mengundang banyak kecurigaan orang lain.

Tak lama Vera keluar dan segera masuk ke dalam mobilku..

“Yup.. jalan..”, sesaat setelah masuk ke dalam mobil..
“Kemana?” tanyaku bego..
“Bawalah daku pergi..”, senandung centilnya keluar lagi..
“Dari derita ini..”, timpalku menyambut senandungnya.. dan kamipun tertawa
tergelak pada sore hari itu.

Dalam keraguan itu akhirnya aku arahkan saja kendaraanku menuju ke arah kota
Tegal masuk ke Jawa Tengah dengan kecepatan sedang, pemikiranku klo aku bawa dia
masuk ke daerah Kuningan seperti Linggarjati misalnya rasanya terlalu riskan
mungkin akan banyak orang yang mengenalnya oleh karena kota Cirebon ini khan
kecil banget.. segala sesuatunya mudah tersebar.. bisa berabe nantinya..

“Kemana..?” tanyanya setelah kami sempat terdiam cukup lama dan sibuk dengan
pemikiran masing – masing
“Ke arah Tegal aza yach..”, saranku
“Hhhmm.. ok”, sahutnya menyetujui saranku

Kembali kami tenggelam dalam lamunan masing-masing dan kemudian terbersit dalam
ingatanku untuk mengajaknya ke Comal, di sana khan ada rumah makan dengan
masakan khas kepitingnya yang sangat lezat.

“Kita makan kepiting yach..”, aku memecah keheningan
“Boleh.. di mana?”
“Pernah ke Comal ngga..? di sana ada rumah makan yang masakan kepitingnya enak
lho”, promosiku..
“Belum pernah nich”.
“Kenapa sich kamu.. sakit gigi yach?” tanyaku dengan nada bergurau.”.Abis
ngomong cuma sepotong-potong gitu”.
“Ach.. Mas Elmo bingung dan malu nich soalnya belon pernah pergi kaya gini nich”,
suaranya bergetar manja..

Aku hanya tersenyum saja dan sempat kuperhatikan kembali sebuah cincin melingkar
di jari manis kanannya

“Emang suami kamu ngga pernah ngajak pergi berdua untuk makan malam bersama gitu?”
tanyaku dengan gaya yakin yang seyakin-yakinnya
“Pernah sich”, akhirnya Vera mulai mengungkapkan kehidupan pribadinya..
“Trus sekarang suami kamu mana? Koq ngga diajak sekalian?”
“Mas Bram.. masih di Jakarta, sudah seminggu.. mungkin lusa baru kembali”.
“Oh.”.
“Dinas”, lanjutnya kembali
“Sudah punya putra berapa?” lanjutku kemudian

Vera hanya menggeleng perlahan dan ada setitik air mata yang bergulir di sudut
matanya, namun segera di hapusnya perlahan.. sambil menghela nafas panjang

“Sudah berapa tahun sich kamu menikah?”
“Jalan 7 tahun”, sahutnya perlahan dengan nada lembut dan bergetar menahan emosi
“Hhmm.. sudah konsultasikan ke dokter?” aku terus mengejarnya
“Sudah.. dari diriku semuanya normal”.
“Trus suami kamu?”
“Tidak tahu”, jawabnya singkat..

Kembali kami terdiam dalam renungan yang dalam sementara lampu penerangan jalan
sudah mulai menyala menambah sendunya suasana sore hari ini.

“Mas Bram adalah lingkaran dalam keraton Kxx, dan layaknya keluarga ningrat
mereka selalu menyalahkanku yang tidak mampu memberikan keturunan buat mereka.
Dahulu kami tinggal di dalam keraton, namun sekarang tidak lagi sebab saya tidak
tahan dengan perlakuan mereka, namun saya juga tidak bisa memaksa Mas Bram untuk
berkonsultasi ke dokter..”, keluhnya dengan nada kelu dan tertekan..

“Apakah kamu pernah meminta suamimu untuk memeriksakan dirinya?” tanyaku
melanjuti
“Tidak mungkin Mas, dalam keluargaku istri harus tunduk pada suami dan yach
itulah takdirku”, bicaranya mulai tak jelas dan berakhir dengan ledakan
tangisnya

Kubiarkan Vera menangis untuk menumpahkan kegundahannya hanya saja kuberanikan
diri untuk mulai mengusap rambutnya dan berusaha menenangkannya.. usapan lembut
dan penuh kasih sayang itu dapat menenangkan emosinya. Tanpa terasa kota
Tegalpun sudah tertinggal di belakang dan 2 jam telah berlalu hingga kami tiba
di tempat yang dituju dan suasana rumah makan yang temaram dengan lampu
penerangan secukupnya menambah romantisnya suasana malam itu, sementara
pikirankupun terus bermain entah apa maksudnya Vera menceritakan semua hal itu
terlebih dengan upayanya untuk mengajakku kencan malam hari ini. Instingku
mengatakan Vera menginginkan benih dariku untuk menyemai rahimnya yang tidak
pernah tersentuh benih hidup yang membuktikan jati dirinya sebagai wanita.

Sikapku yang mesra dan gentle seperti membukakan pintu mobil tadi saat dia masih
sibuk memperbaiki dandannya di mobil kemudian menarikkan kursi untuk Vera duduk,
dapat sedikit menghilangkan kekakuan sikap kami bahkan sudah mirip seperti
sepasang merpati yang sedang memadu kasih terlebih daerah yang kumasuki ini
tidak banyak berhubungan dengan tempat tinggal Vera sehingga lebih memudahkan
kami untuk beradapatasi.

Selesai santap malam, kembali sikap gentle kutunjukkan dengan membukakan pintu
mobil baginya dan Vera membalas dengan senyum manisnya, dan sebuah kecupan tipis
mendarat di pipiku sesaat setelah aku duduk di belakang kemudi.

“Thanks yach”, ucapnya lembut dengan mata sendunya

Aku hanya tersenyum dan membalas dengan mengusap lembut pipinya.. Kemudian
kuarahkan mobilku untuk kembali menuju ke kota Tegal dengan satu tekad yang
berkecamuk di benakku untuk dapat meniduri Vera malam hari ini. Tidak sulit
bagiku untuk mendapatkan hotel yang terbaik di kota ini oleh karena memang
bagian tugas dariku untuk harus berkeliling sehingga hubungan bisnis
perusahaanku dengan hotel cukup baik sehingga tidak sulit untuk mendapatkan
kamar yang kumau. Satu hal yang mendukung rencanaku juga adalah Vera tidak
bertanya dan nampaknya diapun siap untuk menerima resiko tersebut, sementara
pikiranku berencana demikian peniskupun sudah tidak mau kompromi lagi dengan
mengembang maksimal sehingga ada juga rasa nyeri

Sesaat pintu kamar hotel kukunci segera kupeluk Vera yang diam pasrah dengan
mata tertutup rapat.. kukecup lembut keningnya tepat di belakang pintu kamar
hotel, turun sedikit kecupan kuarahkan ke mata kanan, kiri, hidung dan pipi..

Dengan tangan kiri kuangkat dagunya perlahan sempat Vera membuka matanya dan
memandang sayu, sebelum tertutup kembali. Semakin dekat bibirku ke bibirnya
desah nafas hangat yang memburu menerpa sebagian wajahku, kemudian dengan lembut
kuletakkan bibirku di atas bibirnya yang merekah membuka basah siap dan pasrah.
Kecupan lembut tersebut menambah riak gelombang birahi untuk semakin memuncak
dan dengan perlahan kujulurkan lidahku untuk menyentuh ujung lidahnya yang
tersentak berdetak sebelum maju perlahan menelusuri panjang lidahku ditambah
dengan hisapan lembut membuat lenguhnya muncul perlahan disertai dengan tubuh
yang melemas..

“Hhmmhh..”, desahnya saat kulepaskan bibirku dari pagutannya yang sedikit mulai
liar..

Perlahan kususupkan jari jemariku mulai dari punggung ke tengkuk dan terus naik
ke atas menyibakan rambut sebahunya dan secara bersamaan Vera menengadah
memberikan lehernya yang jenjang untuk kukecup.. jilat perlahan mulai dari leher
sebelah kiri menuju ke telinga belakang kiri diiringi dengan nafasku yang
semakin memburu.. dan berakhir dengan lenguhan panjang dari Vera.

“Aaagghh.”.

Kemudian kulepaskan blazer biru tuanya sehingga segera nampak pangkal lengannya
yang mulus oleh karena Vera menggunakan lengan buntung dan kembali kukecup
pangkal lengan sebelah kiri tersebut sementara jari jemari tangan kananku
mengusap lembut pangkal lengan yang satunya dan berakhir dengan genggaman tangan
kami yang menyatu.

“Mas Elmoo.. aagghh”, desah Vera bergetar

Matanya kembali memandangku sayu dan perlahan dalam pelukanku kutuntun dia untuk
mendekati ranjang. Kubukakan kancing demi kancing bajunya sementara Vera terus
memandangku sayu seolah mengatakan lakukanlah.., dan segera setelah seluruh
kancing baju tersebut terbuka, kudapati dadanya yang sangat putih mulus dengan
bra berwarna gading dengan renda-renda kecil di bagian atasnya.. Kukecup..
kujilat seluruh bidang dada yang tidak tertutup bra, kuhirup dalam-dalam bau
harum lembut yang semakin santer menerpa hidungku membuatku melayang untuk
senantiasa memperlakukannya secara lembut dan bersama menari di atas ombak
gelora cinta yang menjilat bak lidah api.. berakhir dengan dekapan eratku pada
Vera. Kubuka tali pengait branya dan segeralah tersembul buah dada yang selama
ini mungkin hanya dilihat oleh suaminya, tidak besar dengan puting berwarna
merah muda yang menjungkit menantang untuk di sentuh. Kulanjutkan untuk membuka
risleting roknya sebelum perlahan ku baringkan Vera di atas ranjang yang empuk..
sementara suhu ruangan masih belum terasa dingin oleh karena hembusan lembut
udara ac belum cukup lama untuk menyejukkan udara kamar.

Vera hingga saat ini masih bersikap pasif dan pasrah seperti layaknya putri
keraton yang menerima keadaannya.. dan sekarang kutindih tubuhnya dengan
sebagian tubuhku dan kembali kupermainkan leher jenjang kanannya hingga ke
belakang telinga dengan iringan rintihan Vera yang mendesah lembut laksana irama
jazz. Kecupankupun terus turun menuruni garis lehernya secara perlahan untuk
kembali mendaki bukit gunung kembar yang mungkin selama ini hanya mengenal
sentuhan seorang lelaki, sementara aku adalah lelaki ke dua yang beruntung untuk
bisa menyentuh dan menghisapnya dengan lembut.. di iringi belaian ringan jari-jariku
mengusap seluruh permukaan kulit bukit kembar tersebut

Hentakan tubuh Vera diiringi dengan gerak reflex tangan yang berusaha menangkap
tanganku dan menekannya secara kuat ke payudaranya disertai dengan tekukan
lututnya serta mata terpejam dengan kuat dan rapat menandakan gejolak dalam
birahinya yang tak tertahankan berusaha menerobos keluar. Ketelusuri lekuk
tubuhnya untuk menggapai tepi celana dalamnya dan segera kuturunkan dibantu oleh
Vera yang mengangkat pinggulnya. Oh.. indah sekali bentuk rambut halus hitam
yang tertata rapi bagaikan hamparan rumput hitam dengan panjang yang seragam dan
terawat baik. Tekanan ringan pada kedua pinggulnya serta hisapan lembut di
pundaknya kembali menyentakan Vera disertai dengan jeritan lirih.

“Arrgghh..”, diiring dengan tekanan pinggul Vera untuk melawan ke atas. Jilatan
demi jilatan kembali merayap menuruni belahan tengah buah dadanya, menuju ke
perut dan secara reflekpun Vera mempersiapkan jalanku dengan membentangkan kedua
belah pangkal pahanya dengan gerakan alami. Tanpa kesulitan dan dengan perlahan
kecupan bibirku bisa sampai di belahan tengah bibir bawahnya yang disambut
dengan mengalirnya cairan putih bening kental dalam jumlah cukup banyak berkelok-kelok
seperti anak sungai membasahi rerumputan akibat terbukanya bendungan yang
menjadi tanggul dari cairan tersebut. Jilatan sedikit kasar untuk mengangkat
cairan tersebut dan diakhiri dengan hisapan kuat untuk membersihkan seluruh
aliran kental anak sungai ini terasakan bagai dibetotnya sesuatu yang ada di
dalam dan meluluh lantakan tulang belulang di tubuh..

“El.. mo..”, jeritan Vera diiringi dengan gerak liar pinggulnya dan tarikan kuat
mencengkram bed cover yang belum diangkat saat kulakukan hisapan kuat tadi.
“El.. mo.. masukkan aku ngga kuat lagi”, pintanya dalam nada bergetar mengharap.

Segera kubuka kaos yang sedari tadi belum kulepaskan demikian juga seluruh
pakaian yang masih menyelimuti tubuhku. Ketika aku mulai menindih tubuh mulus
Vera, sensasi kulit nan lembut menyengat seluruh saraf sensitive di tubuhku dan
mengakibatkan urat-urat di penisku menyembul dengan kuat memberikan guratan biru
tegas membekas. Secara reflek Vera kembali menekukkan lututnya dan bebas membuka
memberikan jalan bagi penisku untuk segera memasuki relung vaginanya.

Vera kembali memandangku sayu dan berkata perlahan,

“Lakukanlah.. aku rela bersamamu”.

Perlahan kuarahkan penisku untuk bisa mulai menelusuri lorong kenikmatan dengan
relungnya yang kuyakin akan menjepit kuat dan ketika kujumpai ujung lorong
tersebut perlahan kuturunkan penis tersebut untuk mulai menerobos lorong
kenikmatan membor layaknya paku bumi diiringi dengan mata Vera yang terus
meredup dan terpejam seiring dengan gigitan pada sudut bibirnya untuk menambah
sensasi kenikmatan yang mulai berjalan. Sebaliknya kurasakan juga sodokan
perlahan penisku serasa membuka lipatan-lipatan lunak yang tak berujung terus ke
dalam diikuti dengan jepitan kuat sesudahnya memberikan sensasi yang tak
terkirakan.

“Aaakkhh..”, erangan panjang Vera disertai dengan mengejang kakunya seluruh
tungkai kaki Vera yang panjang mengakhiri perjalanan penisku untuk mencapai
lorong yang paling dalam sementara remasan kuat di bed cover menandakan
perjalanan kenikmatan Vera yang masih belum berakhir.

Buah dada kenyal tepat berada di bawah dada bidangku dan bisa kurasakan
kehangatannya yang terus berdenyut mengalir membawa gelombang birahi bertalu-talu.
Sunggingan senyum manis Vera menghias ujung bibirnya ketika mata bening itu
bertatapan dengan mataku dalam jarak yang begitu dekat diiringi dengan lenguh
nafasnya yang tetap memburu semakin menggila dan kedutan halus malu-malu
dilakukannya dengan tetap memandangku diiringi dengan senyum manisnya.

“Hebat.. teruskan”, pujiku untuk menambah kepercayaan dirinya bahwa apa yang
dilakukannya bukanlah suatu hal yang tabu dan memang diperlukan untuk dapat
menambah nikmatnya hubungan kami. Pujianku memberikan keberaniannya untuk segera
melakukan manuver tersebut dan seiring dengan kembali terpejamnya mata lentik
tersebut, remasan kuat berirama mengurut penisku yang membangkitkan seluruh
titik saraf di tubuhku untuk terpusat pada gerakannya.. remasannya..

Perlahan kulakukan perlawanan dengan menggenjot penisku untuk mengimbangi
remasannya diiringi dengan lenguh nafas yang terus memburu seperti derak
bantalan rel kereta yang dilalui.

“Hhshshshhshhs..”, dengus nafasku tak dapat kekendalikan
“Uuugghh.. uugghh..”, Vera tak kalah serunya merintih

Buliran keringat sebesar jagung mulai membasahi keningku dan menetes di dadanya,
demikian juga butiran keringat Vera mulai membasahi tubuhnya khususnya di
pundaknya sehingga geraian rambut yang basah dan menempel pada pundaknya
menambah pesona memompa birahiku untuk mendaki mencapai puncaknya

Gerakanku semakin seirama dengan hentakan pinggul Vera apakah demikian kuatnya
ikatan emosi sehingga tak terlalu lama bagi kita untuk menyatukan irama gerakan
kami akupun tak tahu namun hentakan menghunjam semakin kuat dan cepat dan
berakhir dengan..

“Ellmmoo”, teriakan Vera sesaat sebelum aku mencapai puncaknya

Tubuh Vera mengejang sesaat sebelum akhirnya membujur lemas diam tak bergerak,
wajah ayunya meninggalkan buliran keringat halus yang membentuk guratan halus
ketika kuraba menuruni leher jenjangnya dan berkilap tertimpa cahaya lampu kamar.
Tak bosan kupandang wajahnya yang memang ayu. Tak lama Vera mulai membuka
matanya dan memandangku kembali dengan senyum khasnya, sebagai balasannya ku
angkat penisku perlahan dan secara reflek Vera berusaha menahanku untuk tetap
berada di dalamnya, namun tetap kuangkat perlahan dan segera kubalikan tubuh
lemas Vera. Kupandang punggung halusnya dengan beberapa helai rambut yang tetap
menempel basah oleh keringat, kuraba perlahan menyingkap helai-helai rambut
tersebut untuk mendapatkan punggungnya secara utuh. Buliran keringat nampak
jelas pada kedua belah bahunya menggodaku untuk kembali menjilatnya dan terus
merayap ke atas menelusuri leher jenjangnya dan membasahi rambut-rambut halus
yang tumbuh di sekitar tengkuknya dengan air liurku.

Rintihan nikmat kembali terdengar seiring dengan bangkit kembalinya gelora
gairah yang sempat mendatar tadi setelah mencapai puncaknya,

“Eegghh.”

Permainan jari-jariku yang merayap naik turun menelusuri seluruh lekuk tubuh
Vera segera memicu kembali adrenalinku terlebih rintihan nikmat tersebut semakin
cepat memburu dan hanya membutuhkan waktu yang teramat singkat untuk segera
membangkitkannya.

Kembali kutindih tubuh Vera dari belakang dan kuarahkan kembali penisku yang
sedari tadi tetap menegang, sementara belahan kaki yang tampak sangat indah
tersebut kembali terbuka lebar menyisakan lubang yang masih terbuka dan
berdenyut halus dengan lendir yang membasahi sekelilingnya. Kuingin memasukinya
kembali secara perlahan dan menikmati sensasi kenikmatan saat kumasuki relungnya
tersebut secara perlahan dengan jepitan yang kurasakan lebih kuat lagi..

“El.., cee.. pat lakukan, aku tak tahan.. Eeell”, rintihnya perlahan namun
terdengar jelas.

Perlahan namun pasti terus kudorong masuk penisku hingga mencapai jarak
terjauhnya dan segera kuayunkan berirama.

Gerakanku kali ini diimbangi dengan lenguhannya tiap kali ujung penisku
menyentuh mulut rahimnya,

“Arrkkh.., terus El.. arrkkhh”.

Semakin lama genjotanku semakin kuat bertenaga seiring dengan memuncaknya
sensasi yang kurasakan mulai menumpuk di ujung penis untuk menyemburkan sperma
yang sedari tadi tertahan, dan jepitan liang vagina Verapun semakin mantap
kurasakan.

Butiran keringat bak pasir di tepi pantai yang membasahi pundaknya kembali
keluar dengan derasnya yang segera berubah membesar menyerupai butiran jagung
tersebar merata hingga ke punggungnya.. berkilap tertimpa cahaya lampu. Hingga
ketika tiba saatnya, ujung penisku berdenyut kencang dan dalam 1.. 2.. tusukan
terakhir aku hunjamkan sekuat tenaga dan sedalamnya yang diiringi dengan
teriakan Vera disertai gelengan kepalanya yang ke kiri dan ke kanan dengan cepat
dan.. srett.. srett.. srett.. semburan maniku menelusuri panjang penisku dan
menerjang masuk menabrak dinding rahimnya melemparkan puncak kenikmatan hingga
keujungnya dan jatuh demikian terjal dalam kelelahan nikmat yang tak berujung.

“Aaacchh..”, jeritan terakhir Vera sebelum dia kembali terjatuh dan diam dalam
kelelahan yang teramat sangat.

Peluh yang bercucuran bercampur jadi satu ketika tubuhku ambruk dan menindih
tubuh mulus Vera, bau harum keringat segera membuaiku dalam mimpi terindah
bersama Vera.

“Thanks Ver”, ucapku sesaat sebelum ku terlelap
“Thanks juga El”, sahutnya lemah

Luluh lantak rasanya tubuhku malam itu dan terkuras habis staminaku setelah
sebelumnya banyak tersita oleh urusan dinas namun apa yang kuberikan saat itu
memberikan makna dan kesan yang sangat mendalam di lubuk hati Vera, oleh karena
baru kali ini dia merasa begitu dihargai dan diperlakukan manja sebagaimana
layaknya seorang istri yang memiliki kedudukan sama.

JANGAN LUPA BACA CERITA SEKS DIBAWAH INI JUGA YA SOB...
CERITANYA BAGUS2 DAN MANTAP2

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar