Jumat, 21 September 2012

Cerita Seks : Oedin

Cerita Seks : Oedin

Namanya Oedin. Seorang pemuda asal Indonesia. Berdomisili di kota metropolitan
Jakarta. Bekerja di sebuah government agency yang terkenal di sana. Aku kurang
jelas apa posisi atau tugasnya. Dia tak pernah cerita. Aku hanya tahu
penghasilannya cukup untuk membiayai sepuluh istri di Indonesia (akunya), tapi
tak cukup untuk membiayai aku seorang (balasku) hahaha. Yah, begitulah salah
satu olok-olok yang kulontarkan padanya.

Pertama kali aku melihat Oedin dalam rangka PERMIAS (Persatuan Mahasiswa
Indonesia di AS) antar kota-kota di California beberapa tahun silam, saat kita
masih berkuliah ria. Ketika itu dia lagi menyelesaikan studi MSBA-nya di salah
satu kampus University of California. Dan aku, aku juga kuliah di kampus UC yang
lain, beberapa tahun lebih junior darinya. Dalam pertandingan olahraga yang
diadakan setiap tahun itu, aku ikut main bulutangkis, dan Oedin main volleyball.
Team-nya menang. Dan ngeeeeennggggg….! Aku mulai ngeceng Oedin.

Wajahnya yang tampan menarik, tubuhnya yang tinggi tegap serta dagunya yang
berbelah di tengah selalu membuat kedua bola mataku berkeliling mencari sosok
itu. Dunia ini akan menjadi sempurna kalau saja dia membalas tatapan mataku dan
menyimpulkan sebuah senyum untukku. Tapi tentu saja the world is not perfect.
Dia tak pernah melirikku. Tak sadar kalau aku exist! Hhhhh! bahkan gelar juara
bulutangkis pun tak berhasil kuraih. Aku pulang dengan rasa hampa.

Lewat suatu kesengajaan, aku lihat Oedin untuk yang kedua kalinya beberapa
minggu kemudian. Di sebuah klub. Aku tahu dia akan hadir di sana, maka aku juga
ke tempat yang sama dengan tujuan ngeceng si kece. Hey! siapa tahu usahaku kali
ini membawa hasil. Tapi, untuk yang kedua kalinya aku dikecewakan. Oedin membawa
teman kencan yang membuat hatiku gusar. Seorang bule yang menurutku tidak cantik,
plus tubuhnya terlalu berbobot dimataku.
Apa gerangan yang dilihat Oedin dalam diri perempuan ini? Seleranya kok rendah
sekali. Padahal Oedin pantasnya sama aku (gegege…). Dari kejauhan aku amati
makhluk wanita itu minum sambil bersenda gurau berisik sekali bersama orang-orang
berisik lainnya. Dia tidak sungkan-sungkan memberi beberapa pria ciuman dalam
kemabukannya. “Fat bitch!” atau “Italian whore!” Sepanjang malam aku mengumpat
dalam hati. Mana mungkin aku bisa bersaing dengan perempuan seliar gitu? Another
night got ruined. Dasar Oedin jelleeeekkkkkk!!!!

Aku tak pernah mencari Oedin lagi. Kupikir itu lebih baik, daripada nantinya aku
mempermalukan diri sendiri. Beberapa tahun kemudian, setelah nyaris hilang
bayangan pria bernama Oedin yang dua kali bikin aku gondok (arggghhhhh!), aku
dipertemukan kembali dengannya tanpa kucari jauh-jauh. Saat itu aku di tengah-tengah
kesibukanku di depan PC, tiba-tiba sebuah message window Yahoo Messenger muncul
di depan mataku menyapaku. Ya, sampai sekarang aku masih tidak mengerti
bagaimana seseorang yang namanya tidak tercantum dalam contact list-ku bisa
begitu saja melihat aku online/offline dan kirim message.

Itulah Oedin yang kembali. Tidak! Dia tidak kenal aku. Dia hanya tahu aku adalah
teman seorang koleganya yang kebetulan alumnus UC. (Kawanku bekerja di kantornya
di Jakarta, yang kuliah di UC adalah aku, bukan sang kawan, ngerti?!). Kawanku
memang pernah bercerita tentang Oedin dan berniat mengenalkan kami. Tapi sebelum
itu terjadi, Oedin telah terlebih dahulu “nyolong” nickname Yahoo-ku.

Oedin dan aku sering bertemu online/chatting. Tak pernah diawali dengan
perkenalan, tak ada basa basi atau pembicaraan hal-hal yang serius, atau apa
yang orang bilang curhat, singkatnya kami tidak pernah berkonversasi secara
normal. Ibarat anjing dan kucing, kami bertemu lalu saling mencemooh, saling
mengejek, bertengkar. Tak pernah akur (welcome to cyber nightmare!). Tak heran
kalau setelah berbulan-bulan kami masing-masing tidak mengetahui apa-apa tentang
satu sama lain. Sebetulnya aku ingin mengenal dirinya lebih jauh, tapi begitu
kesempatan korek-mengorek itu datang biasanya kami jadi bertengkar. Bagaimana
tidak? Oedin tak pernah mengalah. Setiap pertanyaan selalu aku yang harus jawab
dulu. Bahkan dia kadang-kadang menghindar kalau tiba gilirannya untuk menjawab.
Wajar saja kalau aku sering ngambek.

Mestinya aku tidak menghiraukan Oedin. Apalagi dia adalah seorang self admirer (itu
lho, yang kerjanya tiap hari menyanjung diri). Tapi dia justru membuatku
penasaran. Aku tak pernah marah lama-lama atau bosan, sebaliknya aku akan
mencoba dan mencoba lagi. Bisa jadi kalau dalam sehari aku cuma bicara dua
kalimat dengannya “hai Oedin”, “bye Oedin” dan menghilang meninggalkannya
bengong, karena aku tak tahan mendiamkannya. Aku tidak tahu apakah dia sudah
punya pacar atau belum. Kawanku bilang tak ada yang serius.
Suatu hari, Oedin minta fotoku!!! Hehe… Tentu saja jawabku, “IN-YOUR-DREAM!”
Pernah pula aku menelponnya setelah kuperoleh nomor hp-ya lewat perjuangan yang
“almost cost me an arm and a leg”. Dia memang menyadari betapa indahnya suaraku,
tapi sayang, dia tetap sama, tak pernah mengalah.

Aku menyerah akhirnya. Ingin kubuktikan apakah Oedin dapat menjadi orang yang
menyenangkan jika aku yang berinisiatif. I offered to “talk”, not “fight”.
Bahkan kukirim fotoku yang sedang tersenyum manis sekali (gara-gara capek
dipanggil “si Jelek” setiap kali). Well, seperti yang sudah kuduga, pandangannya
terhadapku berubah. Oedin terkesima cukup lama (or maybe he went into shock).
Nah, rasain lu, ternyata dia sama saja dengan pria-pria lain. Tapi entah karena
pelitnya atau apa, sampai sekarang aku masih tak memiliki fotonya. Dan aku tetap
tak berhasil mengorek banyak.

Suatu hari.
“Khris, aku jadi ke Amrik bulan depan,” ujarnya.
“Datang ya datang! Terus emang napa? Pokoknya jangan lupa bawa titipanku kalo
mau ngajak aku dinner.”
“Kamu jemput di airport ya?”
“Mau bayar aku berapa? Kayaknya lebih murah naik taksi deh!” candaku.
“Jangan gitu doooong. Aku kan sengaja mau ketemu kamu.” Tuh! Gombal itu… seperti
biasa.
“Ummm… umm…. ” Aku kurang percaya. Temannya masih banyak di sini. Bahkan dia
kenal beberapa temanku. “Nggak janji!”

Timbul niat iseng untuk membalasnya. Aku akan menemuinya di airport, cuma
bertemu, bukan menjemput. Toh dia bukan tamu di sini yang harus kuperlakukan
istimewa. Yup, aku akan mendatanginya di bandara mengendarai Kawasaki Ninja 250
yang ada di garasiku, jadi tak usah memboncengnya pulang. Hihihi… motor itu
nyaris tak ada tempat buat bonceng-boncengan, aku juga nggak bisa boncen-boncen,
lagian… kopernya mau ditaruh dimana? Sayang… lulus dari Motorcycle Safety
Foundation dan memiliki SIM motor bukan modal yang cukup untuk keluyuran bawa
motor di sini. Untung aku sudah sering latihan mondar mandir naik scooter
Aprilia-ku dan punya semua perlengkapannya seperti Arai helmet dengan cap DOT
dibelakangnya, sarung tangan dan sepatu boot. Tapi sports bike Ninja itu jauh
lebih berat dari scooter, maka aku rajin weight training di gym. Aku memang
tidak ada potongan seorang biker yang umumnya beringas dan ototnya bertonjolan.
Well, semoga saja hari itu hujan tidak turun.

Sebulan kemudian.
Dalam penampilan seorang biker aku bertemu Oedin, menenteng helmet dan jaket
kulitku, masih tanpa fotonya. Dia pernah menawarkan, tapi aku menolak. “Enak aja!
Kalau butuh baru nawarin.” Oedin pun tidak memaksa, bahkan dia masih sempat
bilang, “Ya udah, kalo gitu cari cowok yang paling kece aja di lobby.” Sialan
nggak?

Tidak susah mencarinya dikalangan orang-orang dari berbagai macam etnis di
airport. Sosok orang Indonesia ini cukup familiar. Oedin ternyata sangat rupawan.
Oh yes, aku menikmati setiap detik pertemuan kami. Aku berhasil membuat wajah
tampannya terkesima sekali lagi and it made my day. Komentarnya sewaktu
melihatku, “Woman!?!?!”

Keesokan harinya.
Pikiranku sedang melayang-layang ketika telepon di mejaku berdering. Nyaris tak
ada yang kuselesaikan pagi itu selain mengkonsumsi Toblerone dan senyum-senyum
sendiri melamunkan Oedin yang sejak pertemuan kemarin memberikan getaran hebat
didadaku. Tawanya, gigi putihnya, kata-katanya, badan tegapnya… semuanya tak
pernah lolos dari bayanganku. Aku angkat telepon dan, “Jahat ya kemaren. Tega
banget.” Dasar Oedin! Belum halo sudah protes. Oops, salah! Justru ini dia
telepon yang sudah kutunggu-tunggu sejak malam. Sesungguhnya sepuluh menit lagi
saja, tanganku sendiri akan otomatis mengangkat gagang telepon dan memutar
nomornya.
“Duuuu… digituin aja ngambeeekk,” balasku geli. Aku memang keterlaluan. Dan aku
bersedia kok minta maaf, kalau perlu.
“Iya iya. Aku ngaku kalah. Udah bisa keluar makan?” Hmm… baru jam sebelas.
“Aku masih sibuk, Oed!” Tentu saja sibuk. Wong dari pagi kerjaan belum ada yang
beres. “Kenapa? Mau traktir aku makan?”
“Udah kutunggu di depan gedungmu.”
“Hmmm… miss me already?” tak tahan aku tidak menggodanya.
“Iya tuh. Begitu bangun langsung cari kamu.”
“OK. Kira-kira setengah jam lagi aku keluar.”
Oedin sudah berdiri menunggu di samping mobil sewaannya ketika aku keluar.
Sekali lagi aku menggumam, “Oooh Oedin… kenapa kau diciptakan Tuhan begitu
menawan? Semalam aku bolak balik di ranjang sambil ngitung domba berjam-jam baru
bisa tidur… gara-gara kamu.”
“Benar-benar kejam. Perasaan sayangku yang tulus kau permainkan seperti ini,”
omelnya di mobil.
Aku hanya tersenyum mesem. Yeah, it won’t happen again, Darling. Tapi, semua ini
kamu yang mulai, ingat?
“We even now?” tanyaku.
“Yes. Yes, we’re even now.” Jawabnya memastikan. Lalu ia bergumam, “… ain’t no
doubt.”

Siang itu kami makan sambil berbincang-bincang diselingi gurauan dan cenda tawa.
Mungkin itulah pertama kalinya kami benar-benar ngobrol. Oedin bahkan memilih
sebuah meja yang letaknya di pojok, di mana dia duduk menghadapiku, dan TEMBOK.
Seluruh perhatiannya diarahkan kepadaku (karena aku jelas lebih enak dipandang
daripada tembok). Saat itu aku berpikir, kalau di tempat umum saja dia bisa
konsentrasi memusatkan perhatiannya padaku, bagaimana nanti kalau kami hanya
berduaan saja di tempat tertutup?? Lalu posisi duduknya yang tegap… whoa…
tentunya dia bukan tergolong orang yang “malas” di ranjang.

Setelah makan. “Aku ada satu permintaan,” katanya.
“Mm-hmm?”
“Boleh nggak hari ini kau nggak balik lagi ke kantor?”
“Yeah. Sure!” Dengan ringan aku menyetujuinya. Oedin menolehku tak percaya. Aku
pun tertawa lagi. Well, call me crazy, tapi aku memang suka tertawa berada di
dekatnya. Dan aku telah jatuh cinta padanya. Dia begitu pintar membuatku tertawa.

“Mo kemana sekarang?” tanyaku di mobil.
Oedin berpikir sebentar, lalu bercetus, “Las Vegas.”
Kali ini aku yang dibuatnya kaget. Mataku membesar. “You’ve got to be kidding me!”
Tapi ekspresi wajahnya mengatakan, “I am not kidding.” Dengan begonya aku bilang,
“Kau dan aku?” Siapa tahu dia ngajak serombongan orang.
“Kenapa? Takut apa? Kamu tuh paling safe berada disisiku.” Yeee… emang apa yang
ditakuti? Aku cuma memikirkan tentang tugas kantor yang akan terlalai kalau
ditinggalkan berhari-hari.
“Let’s go! Hit the road!” sambutku pasti. Las Vegas memang cukup jauh, tapi aku
tidak akan menolak kalau itu artinya bisa berduaan berjam-jam di mobil bersama
Oedin. “Tapi besok malam pulang ya! Aku ngga bisa lama-lama sakit, tugas kantor
pasti menumpuk.”
“Whatever you say, my baby girl.” My baby girl… begitulah kadang-kadang dia
memanggilku. Ain’t that sweet?

Oedin mengantarku menjemput mobilku di kantor dan pulang ke rumahku untuk
mengemas barang. Aku keluar lagi dengan gendongan backpack di punggung dan baju
yang lebih santai yang memperlihatkan lekukan tubuhku: tank top dan khaki pants
dgn low cut waistline.

Dalam perjalanan kembali ke hotel Oedin, kami mampir di convenient store untuk
beli minuman dan makanan ringan. Dia meletakkan tangannya di bahuku. Beberapa
orang yang lewat sempat melayangkan matanya ke arah kami. Dan tatapan mata Oedin
membalas mereka seolah-olah memberikan message, “Cewek ini milikku. Kalian boleh
melihat, tapi aku yang akan membawanya pulang.”
Betapa senangnya aku.

Kami sampai di kamar hotel Oedin. Oedin menyerahkan sebuah bungkusan besar
kepadaku. “Ini, separuh bawaanku adalah titipanmu.” Isinya tak lain adalah
sebuah guling besar dan empuk titipanku (Di sini nggak ada guling). Lebih besar
diameternya dan lebih lembut texture-nya dari yang biasa kutemukan. Kupeluk
guling itu erat-ear untuk merasakan keempukannya. Oedin berkata dengan iri, “Sekali-kali
aku dong yang dipeluk.” Aku melirik Oedin lewat ujung mataku dan mencibir. “Bite
me!!”
“Itu aku special order buat kamu.” Lalu Oedin mengeluarkan sebuah bungkusan lagi
dari kopernya. “Dan ini sarung guling buat ganti. Kalau engga aku beliin
sekalian, jangan-jangan kau ngga pernah ganti sarungnya.”
“hehehe… very thoughtful!!” ledekku sebal.

Tapi aku lalu bangkit mendekati Oedin, merentangkan kedua tanganku lebar-lebar
dan memeluk lehernya. Lega sekali rasanya akhirnya bisa begitu. Kudekap erat
tubuh lelakinya yang mantap kokoh. Tercium bau cologne-nya yang sangat kusukai
sejak kemarin. Peluklah aku sekencang-kencangnya, jangan biarkan aku lepas,
ucapku dalam hati. Kurasakan lengan Oedin merengkuh tubuhku. Aliran panas mulai
menjalar menghangati seluruh tubuhku. Kami hanya berpelukan beberapa saat dengan
pikiran masing-masing. Lalu aku melonggarkan dekapannya dan memandangnya dari
jarak dekat sekali. Ampuuuun Oedin… belahan dagumu sangat menarik dalam jarak
sedekat ini. Oedin mengecup bibirku ringan.
“Sudah lama aku ingin menciptakan momen ini. Momen perfect seperti ini.”
“Seperti apa?” sahutku menantangnya.
“Momen yang pas untuk menciummu, dan menggigit bibirmu yang sensual.”
“Momen yang seperti itu tidak bisa sengaja diciptakan sepasang manusia. Harus
terjadi dengan sendirinya,” jawabku lembut. “Dan kau baru saja merusaknya.”
“Oh ya?” Oedin berkata seraya menempelkan bibirnya kebibirku. Hembusan napas
kami beradu. Dua bibir terkunci. Dan kami terbuai dalam ciuman yang hangat dan
panjang.

… aku merintih dan mendesah nikmat, memberinya aba-aba untuk maju terus. Namun
pelan-pelan gerakan mulutnya terhenti. Huh. Selalu bikin aku kesal! “Aku ada
sesuatu untukmu,” katanya. Dia melangkah ke tasnya mengambil sebuah kotak kecil
dan mengajakku duduk di sampingnya di sisi ranjang. Kotak terbungkus rapi yang
mirip kotak perhiasan itu diserahkannya kepadaku. Dengan rasa ingin tahu, aku
buka dan… kosong! Tak kutemukan barang sekecil apa pun di dalamnya. Oedin tak
membiarkan aku bengong lama-lama, dia berucap serius, “Pakailah.” Sedetik
kemudian aku pun tersenyum mengerti maksudnya.
Aku berdiri di hadapannya, mundur dua kaki. Sambil menggigit bibirku dan
mengulum senyum, perlahan-lahan aku melepaskan shirt-ku lewat atas kepala,
mengibas rambutku yang tergerai di bahu, lalu kemudian aku lepas celana
panjangku. Oedin duduk di ranjang menyaksikan adegan stripping itu. Kemudian aku
berputar membelakanginya, memberinya sebuah view tubuh seorang wanita yang
hampir sempurna. Dengan posisi membelakanginya, aku melepaskan kaitan bra-ku,
menelanjangi dadaku, mengangkat bra itu tinggi-tnggi dan membuangnya ke bawah.
Lalu aku berputar lagi menghadapnya. Heran! Tak sedikitpun rasa malu melandaku
menelanjangi diri sendiri di depan lelaki yang baru kujumpai. Seluruh anggota
tubuh Oedin begitu terfokus pada diriku, terutama matanya memancarkan pesona
seolah-olah melihat dewi turun dari langit. Buru napasnya yang dapat kudengar
membangkitkan rasa percaya diriku. Aku merasa seksi sekali (mungkin juga
terpengaruh oleh kondisi fit tubuhku yang belakangan ini banyak dilatih). Oedin
meraih iced tea di atas night stand dan meneguk isinya sedikit untuk melepaskan
dahaganya. Kuhampiri dirinya dengan maksud memancingnya lebih jauh. Disentuhnya
buah dadaku dengan botol di tangannya. Tarikan napasku terhenti seketika dan
mataku sempat terpejam. Dingin sekali. Tapi nikmatnya tak terlukiskan. Putingku
yang semula sudah tegak berdiri disebabkan dinginnya kamar hotel makin mengeras
dan menantangnya. Buah bundar di sekitarnya bergerak naik turun seirama dengan
napasku. Aku pasrah menantikan sentuhannya. Oedin mendekati dadaku dan giginya
menggigit pelan putingku. “Oedin…” desahku memohonnya. Namun cuma itu yang
kudapatkan. Tidak lebih. Dia mundur lagi. Saat itu napasku kian memburu.

Kiranya Oedin masih menikmati permainan ini. Dia masih belum menyentuhku. Fine!
Dengan susah payah aku menahan diri. Aku menelan ludah dan melanjutkan dengan
melorotkan sedikit CD-ku memamerkan bulu hitam yang muncul di baliknya.
Kugodanya dengan lirikan mataku dan senyuman nakal di bibirku.
“Lepaskanlah. Ada sebuah surprise menantimu.” Aku menawarkan Oedin untuk membuka
sehelai kain terakhir yang akan melengkapi ketelanjanganku. Ya, harus dia yang
buka. Oedin berlutut. Sambil didekatkan kepalanya ke perutku mencium harum
tubuhku, tangannya melakukan apa yang kupinta. CD itu baru turun separo di
pahaku ketika tiba-tiba matanya menangkap sesuatu yang lain di sana. Oedin
terkejut.
“Kau apakan?” tanyanya melotot. Jemarinya mengelus lembut bulu-bulu yang tumbuh
di atas kemaluanku. Bulu itu membentuk sebuah hati yang rapi.
“Cakep nggak?” Kepalaku menunduk memperhatikannya, waswas menanti. Bagaimana
kalau dia lebih suka bulu yang lebat seperti kebanyakan orang Indonesia? (bener
kan?!) Aku sendiri bangga sekali akan pemandangan itu, bukankah better access
better service? Nggak seluruhnya habis lho, cuman bagian atas seperlunya kok.
“Keren banget. Tapi… apa engga sakit, Khris?” Nadanya khawatir.
“Sakit lagi! Itu di-wax, bukan dicukur.”
“Ouch. Buat apa, ah? Untung-untung nggak infeksi.”
“Yang ngerjain profesional kok!”
“Buat apa?”
“Buat siapa!” Koreksiku.
“Buat aku?” tanya Oedin tak percaya.
“Just for you.” Konfirm-ku.
Seketika itu juga Oedin membawa tubuhku ke dalam pelukannya. Mendaratkan ciuman
di bibirku dengan agak paksa, menanamkan lidahnya di dalam mulutku dan bergerak
dengan liar di sana. Setelah itu Oedin menelusuri setiap inci kulitku yang tak
terbalut sehelai benang pun. Begitu passionate dan intens rangsangan yang
diberikannya. Leherku, bahuku, dadaku, perutku, kemaluanku… rasanya aku tak
mampu berdiri lagi, antara ingin terkulai lemas dan nikmat ingin terbang.
Tanganku berpegangan pada tubuhnya mencari support. Tapi otot-otot kencang
lengan dan bahunya justru memberikanku rasa nikmat. Kulucuti shirtnya. Dan
akkhhhh… dadanya terbentuk indah nian.

Lebih sensitif titik yang disentuhnya, lebih nyaring pula desahan dan rintihanku;
dan kutambahi bisikan-bisikan “yes” bilamana cumbuannya kurasakan tepat sekali.
Ternyata direksiku sangat efektif, dalam sekejap dia membuatku mengerang-erang
tak tahan. “Oedin… aku nggak bisa berdiri lagi. Aku perlu berbaring,” aku
memohon padanya. Tubuhku didorongnya ke dinding yang terdekat. Kesempatan itu
aku gunakan untuk memeluknya erat-erat, sebelum dia meneruskan aksinya. Semacam
time-out. Aku sempat berpikir, apa yang akan terjadi besok, atau minggu depan,
atau bulan depan? Aku tak ingin dia terburu nafsu, aku sesungguhnya ingin
mendengarnya mengungkapkan kata sayang padaku dengan sungguh-sungguh. Aku tak
ingin dia ml denganku semata-mata karena attraksi fisik. Mengertikah kau, Oedin?
“Oedin?” panggilku lirih.
“Yes Baby?” Tangannya memang membelai lembut rambutku, panggilannya terhadapku
selalu mesra, tapi entah dia merasakan hal yang kurasakan atau tidak. Aku yang
sudah jatuh hati padanya, namun tak berani menyatakan rasa itu, karena…
bagaimana kalau momen ini hanya merupakan sebuah “one night stand”?
“Let’s just do it,” ujarku akhirnya. Aku berjalan meninggalkannya, kembali lagi
dengan sejumlah kondom di tanganku. Cukup banyak koleksiku, berbagai macam
ukuran, bentuk, merk dan warna.
“Gitu yaaa? Aku dipaksa pake kondom.” Oedin kembali melumat bibirku. Untuk
mengusir jauh-jauh perasaan janggal yang tadi merasukiku, aku meremas tonjolan
keras di pangkal pahanya yang sejak tadi belum kusentuh. Nafsuku naik kembali.
Kubuka ritsleting celananya dan kubelai penisnya dari luar celana dalamnya. “Oooh…Khris…”
gumamnya di sela-sela ciumannya. “Touch the real thing, please.” Aku menyusupkan
tanganku ke dalam celananya, menggenggam kejantanannya dan mulai bergerak naik
turun. Akh, so… manly. Mataku terpejam, hmmm… sesaat lagi genggamanku itu akan
mengisi kewanitaanku dan berpacu! berpacu! untuk meraih sensasi maksimum yang
seharusnya aku kejar saat ini. Forget everything else.

“Apa posisi favoritmu?” bisikku di telinga Oedin. Dia sedang memejamkan matanya
sambil kepedasan menikmati sentuhanku. “Mmmm….?” Dia hanya ‘mmm’. “Ayo dong…
kasih tahu. Karena aku akan memenuhi fantasimu,” pancingku sambil menjilati
leher dan dadanya. Oedin tersenyum geli gara-gara jilatanku sekaligus
pertanyaanku. Emang lucu? “Masa kau ngga pernah punya fantasi sih? Aku janji gak
akan ketawa.”
“Hehehe… See… I can’t tell you that. It’s supposed to just happen.”
“You never ever fantasize making love to me?” tanyaku lagi.
“Umm… I tell you that, then I’d have to kill you.” Yaaa, mulai Oedinnya keluar.
“Kayaknya kamu ada fetish deh. Fetish lihat cewek stripping, iya kan? Ngaku!”
Kembali dia tersenyum.
“Fuck you, Oedin.” Aku benar-benar kesal. “Kamu pikir ini lucu. If you don’t
want to share anything with me, that’s your choice. But I can’t be here.”
Aku sudah membuka diriku selebar-lebarnya, bahkan sudah telanjang bulat di depan
matanya, kukira dia sudah berubah sejak kami bertemu, tapi aku keliru.
“Call me when you’ve grown up,” lanjutku sambil bergerak meninggalkannya.
Mungkin dia memang lebih cocok dengan si “Italian bitch” after all, mungkin hati
perempuan itu sekeras batu.
“Khris, tunggu.” Oedin mencekal lenganku. “Tentu saja aku berfantasi. Tapi jika
kau tanya apakah aku pernah bermasturbasi sambil membayangi dirimu, tak pernah
kulakukan itu. Aku menghormatimu.”
Entah dia berkata yang sejujurnya atau tidak. Aku malas menoleh kearahnya atau
argue lagi dengannya. Aku percaya hatinya sebenarnya lembut, tapi aku lelah,
hatiku sungguh lelah.
“Dan, aku tidak punya fetish seperti yang kau katakan, tapi mungkin aku punya
suatu fetish yang lain. ‘fetish Khristi’. Pernah denger?”
Ok, keep going, I am listening, ujarku dalam hati. Di depannya aku masih
cemberut.
“Lalu, posisi yang aku sukai, ummm… mungkin…. kamu di atas.” Gigitan kecil mesra
di daun telingaku disertai bisikan “nothing can beat that view” membuatku geli,
sekaligus melunakkan hatiku. Tak pernah dia merangkai kata-kata seindah itu
sebelumnya. “Atau kalau gak dikasih frontal view, dikasih rear view juga oke
banget. You got a perfect ass.” Kata-katanya merangsang saraf-sarafku. Aku mulai
merespons cumbuan serta bisikannya dengan hangat sambil kudesahkan lirih namanya.
Tubuhku ditindihnya melawan dinding. Kedua pahaku kuangkat naik sehingga
menjepit pinggangnya, lalu tiba-tiba kurasakan sebuah benda keras tumpul
mendesak masuk memenuhi kewanitaanku. Bisikan dan desahan berubah menjadi
erangan nikmat berpadu di ruangan itu.

Kini Oedin telah pergi jauh, kembali ke kehidupannya yang rutin. Tapi aku telah
menemukan Oedin yang baru. Aku mencoba membuang jauh pikiran yang dulu biang
frustrasi dan kesebalan, karena perasaan itu membuatnya semakin jauh dariku. Aku
lebih suka mendapati diriku memejamkan mata, me-recall aroma tubuhnya yang segar,
sambil memeluk erat-erat guling pemberiannya, mengingat caranya menggodaku,
membuatku tertawa. Dia tak pernah lagi membuatku kesal, yang ada hanya rasa
sayang dan rindu. Sebelum berpisah, aku pernah berpesan kepadanya, “Ingatlah aku
setiap malam sebelum kau tidur. Kalau nggak tahan, masturbasilah. Aku akan dapat
merasakannya dari sini.”

JANGAN LUPA BACA CERITA SEKS DIBAWAH INI JUGA YA SOB...
CERITANYA BAGUS2 DAN MANTAP2


JANGAN LUPA BACA CERITA SEKS DIBAWAH INI JUGA YA SOB...
CERITANYA BAGUS2 DAN MANTAP2

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar