Senin, 06 Juni 2011

Nani gadisku dari kampung - 4

WAKTU ISTIRAHAT SIANG YANG SUDAH LEWAT

Cerita sebelumnya ketika pagi aku berangkat kerja, meninggalkan gadisku Nani sendiri di rumah hingga saat aku pulang waktu istirahat jam kantor. Sebagaimana kebiasaan sebagai karyawan kantoran, curi-curi waktu kesempatan istirahat antara jam setengah dua belas siang. Walaupun itu sebenarnya tidak ada aturan formal, namun kesempatan itu kugunakan untuk pulang ke rumah yang kebetulan sangat dekat dengan kantor di mana aku bekerja (kurang dari 5 menit jalan kaki).Kesempatan itu biasanya setiap hari kupergunakan untuk pulang makan di rumah. Hitung-hitung mengurangi beban keuangan karena tinggal di rumah kost. Tapi beberapa hari terakhir ini lain dari biasanya, sejak induk semangku meninggalkan adiknya seorang diri, untuk menemaniku sementara dia pulang kampung dengan keluarganya sebagaimana ceritaku sebelumnya. Sejak iturumah kostku penuh suasana birahi sebagaimana yang kuungkapkan sekarang ini.

Ketika aku pulang untuk memenuhi janji makan siang seperti yang pernah Nani ucapkan waktu pagi sebelum aku berangkat, mendorong semangatku yang dulu biasa-biasa saja saat-saat makan siang, kali ini berubah menjadi gairah yang menyala. Suasana sepi rumah kostku memberikan keleluasaan bercumbu penuh pelampiasan gairahku pada Nani.

Sesampainya di rumah aku menengok ke kamar Nani, tapi rupanya gadis itu tengah tidur dengan pulasnya, tanpa menghiraukan keadaan bajunya yang tersingkap kesana kemari memperlihatkan gundukan bukit kemaluannya yang terbungkus celana dalam yang agak transparan warna merah dengan paha sebelahnya yang terangkat. Kujaga agar kedatanganku tidak membangunkan Nani dan terganggu tidurnya, dan dengan begitu aku bebas menikmati kemolekan tubuh indahnya, bukit payudaranya yang menonjol di balik baju yang tidak berlapis BH lagi. Puting susunya nampak nonjol di balik bajunya yang tipis. Aku sempatkan untuk buru-buru makan sendirian dan segera kukembali ke kamar Nani dengan hanya mengenakan celana dalam saja untuk kembali menikmati keindahan gadis kampungku yang sekarang sudah berganti posisi dari semula tergolek menghadap langit-langit kini berubah miring menghadap dinding dengan kaki terlipat sehingga kedua pantatnya yang sintal dan pahanya yang mulus itu seolah menjepit bibir kemaluannya tertutup ketat oleh celana dalamnya.

Sesaat kemudian Nani terjaga dari tidur siangnya dan sambil tersenyum mengetahui pemandangan tubuhnya tengah dinikmati dan mungkin agak terusik oleh kedatanganku.
"Yaang.. sudah lama ya.. aah.. aku mau ke belakang dulu nich.." Sambil bangun dan mendaratkan kecupan di bibirku. Kembali dari kamar mandi, Nani menyusulku di kamar yang sedang tiduran, meneruskan permainan bibirnya di bibirku mengawali pemanasan percumbuan di siang yangmemang udara kelewat panas.
"Mas.. sudah makan belum.."
"Sudah.. cuma.. kalau makan tanpa dilengkapi dengan buah-buahan untuk mencuci mulutnya nggak ada, seperti nggak komplit.." aku menyindirnya.
"Aaah, Mas mulai pura-pura.. dulu nggak pernah berani bilang, sekarang sudah tahu rasa buah dada Nani, jadi ketagihan, ya kan.. habislah dikemot terus.." Nani membalas menyindirku.
"Ya.. daripada nanti nyari buah yang lain.. gimana.." jawabku lagi.
"Iya deh.. Jangan khawatir Sayaang.. mau sekarang?" kini Nani menawariku dengan mengeluarkan sebelah buah dadanya yang kiri, memberiku kesempatan untuk menyambutnya. Payudaranya yang bulat sangat mengharapkan remasanku sambil kuelus lembut dan usahaku mendapatkan putingnya segera kudapat dari balik bajunya yang terbuka longgar bagian atasnya.

Nani masih duduk di pinggir ranjang sedangkan aku tetap rebahan dengan batang kemaluanku mulai dijangkau tangan Nani sambil mengocok lembut, demikian juga kemaluanku diusapnya, serasa nikmat menjalari seluruh tubuhku. Nani mulai terangsang oleh gairah yang diperoleh oleh rabaan tanganku pada kedua bukit payudarnya yang membusung di dadanya yang putih mulus dan sebelah demi sebelah tangannya membebaskan satu persatu buah dada yang masih tersembunyi dari balik bajunya dan munculah satu demi satu memperlihatkan sepasang daging indah payudaranya yang merangsang birahi, namun di sana sini nampak bekas merah gigitanku tadi pagi di sekitar dadadan lehernya yang jenjang.

Kucium lembut permukaan bukit payudaranya yang menggunduk, kujilati permukaan buah dadanya. Kubenamkan wajahku diantara gundukan bukit kembarnya dengan kedua tanganku menekan kedua daging indah menonjol itu menjepit kedua pipiku. Nampak puting susunya masih merah bekas cupanganku yang kuat tadi pagi. Bagai kasih sayang wanita yang sedang menyusui, Nani membimbing mulut bayi ke puting susunya agar nikmat mengenyot puting yang mulai kenyal tegang, namun aku menyambut puting Nani bukan dengan mengenyot tetapi dengan menjilat dan menggelitik pada bulatan kenyal coklat kemerahan itu penuh nafsu birahi. Nani memberikan tangan kirinya di bawah kepalaku sebagai bantalan sekaligus menekan kepalaku rapat ke payudaranya, tangan kanannya tetap mengocok batang kemaluanku posisi ini membuat nyaman sedotanku ke puting susunya, semakin kuat cupangku semakin gelinjang birahi Nani meningkat juga. Terkadang dia seakan-akan tidak mampu mengendalikan keinginannya agar seluruh payudaranya masuk ke mulutku dengan tangan kanan mendorong dan mengarahkan pucuk putingnya masuk ke mulutku yang terkadang lepas karena gerakan kami yang sama-sama sudah terdorong oleh nafsu yang menggebu-gebu untuk memperoleh kenikmatan birahi bersama-sama.

Aku berusaha memberikan kepuasan untuk Nani dengan mengarahkan telunjuk ke lubang kemaluan yang sudah licin basah oleh lendir kewanitaannya agar Nani memperoleh kenikmatan birahinya dari dua bagian sensitifnya, baik sedotan puting payudara maupun liang kewanitaannya.

"Mas.. sedott.. putingnya yang kuat.. achh.. enaak yaach.. hemm.. iya.. yaa.. memeknya.. ehmm.. yaa.. yaa.. bagian itu.. yaach enakk.. yachh.. yaachh.. yaachh.." gairahnya kian kuat. Aku turun dari ranjang dan jongkok di lantai sementara dia terlentang dengan pantat di bibir ranjang membuat selangkangan Nani terbuka lebar untuk memberi kesempatan leluasa agar aku memainkan liang bukit kenikmatannya baik dengan jilatan maupun jari-jariku sepuas-puasnya. Kaki Nani diangkat ke atas pundakku. Bibir vagina Nani kujepit diantara jariku dan kugesekkan bibir itu diselingi dengan sedotan bibirku yang aku kemotkan, menyebabkan lendir kewanitaannya semakin membanjir deras keluar membuat Nani mencapai orgasme berkali-kali.

"Aduuhh.. enaakk.. aduhh.. kenapa.. aduuhh.. eechh.. aduuhh.. eechh.. heehh.. aduuhh.. nggakk.. kuat.. Mass.. begini enak.. Yangg.. Yangg.. aacchh.. eechh.. aduuhh.. eechh.. ss.. ennaakk.. Mass.. Sayang.. hehh.. hehh.. hehh.." desahan Nani merangsang sekali kalau sedang menggelinjang orgasme. Untungnya rumah kostku ini jauh dari kemungkinan tetangga mendengar, sehingga Nani berdesah sepuasnya mengekspresikan kenikmatan orgasme liang kewanitaannya.

"Mas.. Nani.. nggak kuat lagi.. ehh.. diapain sih Yang.. kok rasanya lain.. hhmm.. Mass.. Nani.. nggakk.. kuat.. lagi.. nichh.. Nani lemes rasanya.." begitu keluhan perasaan nikmatnya orgasmenya. Aku pun puas melihat Nani menikmati puncak orgasme yang bertubi-tubi terutama gerakan tubuhnya saat puncak kenikmatan tiba, pantatnya mengejang naik turun, buah dadanya bergoyang indah menari-nari dan mata maupun bibirnya membuka kadang menutup dengan mimikmuka gelisah menikmati kepuasan yang sedang dirasakan.

Waktu istirahatku yang biasanya kugunakan untuk makan dan sekedar tidur-tiduran, kali ini malah aku meniduri seorang gadis yang dengan pasrahnya memanjakan bersetubuh denganku, berlangsung dikala waktu istirahat tanpa kenal lelah. Sampai siang itu aku agak terlambat kembali ke kantordengan badan yang agak loyo karena sebelum berangkat Nani memberikan kenikmatan sesaat dengan kuluman pada batang kemaluanku yang dia sedot dan isap setelah dia sudah tidak berdaya karena orgasme tadi.

"Mas.. adiknya Nani isep-isep aja.. yach.. kasihan.. biar Nani kelomotin," dan kocokan dan usapan jari halusnya membangkitkan dorongan birahi yang menimbulkan ereksi kemaluanku terasa semakin nikmat menuju puncak orgasmeku saat ejakulasi.
"Mass.. hmm.. keluarin.. hmm.. cplkk.. cllssp.. Mas.. keluarin.. ke mulutku.. Mass.. echh.. keluarin.. yaach.. yaach.. keluarin.. keluarin.. yaach.. yaach.." Begitu setiap semprotan spermaku masuk ke mulut, Nani mendorong kepuasanku dengan bunyi mulutnya setiap kali semprotan cairan yang dia terima. Tangan Nani demikian cekatan untuk setiap leleran spermaku di wajahnyalangsung dia balurkan ke sekujur buah dadanya sebagai tanda totalitas kepuasannya sambil kedua buah dadanya dia usap melingkar dengan spermaku hingga merata. Tidak ketinggalan puting susunya yang mengeras ikut kebagian.

"Biar meresap di permukaan tetek Nani ya Mas, sampai nanti sore sama Mas mandinya, sambil nunggu Mas pulang dari kantor, Nani mau tidur lagi ya Sayaang.." begitu ungkapannya yang merangsang birahiku.
"Mungkin bisa untuk mengencangkan otot tetek Nani.. pasti nanti Mas makin puas ngempotnya.."Aku hanya senyum puas melihat tingkah lakunya penuh sensual dan merangsang. Kembali aku berdiri dengan lutut di depannya terus kucium pahanya, lalu pusarnya. Dia hanya pasrah menggelinjang saja. Aku ulangi terus, sampai beberapa lama. Nani sudah mendesis-desis, sampai akhirnyatubuhnya mengejang.

"Nani, mau yang gimana lagi sekarang Non?" tanyaku untuk membangkitkan lagi nikmat gairahnya siang itu.
"Ouhh.. Terserah.. Mas.. Nani pasrah aja sama Mas.. Nani udah nggak bisa lepas dari kenikmatan dari Mas.." Akhirnya dia tidak sabar lagi. Kepalaku ditariknya, lalu wajahku ditempelkan ke bulu vaginanya. Dengan pelan kugesekkan hidungku ke vaginanya, lalu bibir vaginanya. Aku merasakan celah selangkangan yang kian basah itu. Begitu banyak cairan yang keluar, sehinggaaku bisa menghirup sambil menyedotnya. Terasa gurih, segar juga. Nani tidak kuat denganperlakuanku, kakinya sampai gemeter, lalu dia duduk di sofa. Kepalaku menyeruak masuk. Kedua pahanya kuangkat pakai tangan. Kini dia duduk bertambah maju sedikit. Kedua kakinya terangkat, sampai bagian belakang lututnya bertumpu pada pundakku. Kujulurkan lidahku lagi ke bibir vaginanya yang basah itu membuat Nani jadi semakin gemas dibuatnya.

"Cepet dong, Yangg.. Mas.. Aku udah nggak tahan.." Ya, tunggu apa lagi? Kini aku berdiri dan segera kurentang selangkangannya. Kumasuki gerbang kenikmatan yang sudah merangsangku berwarna merah tua kecoklatan, mengkilat basah. Bibir vaginanya menuntut perlakuan batang kemaluanku segera memasuki persetubuhan yang sebenarnya. Hingga aku harus menyelesaikan lagi satu babak pergumulan di atas ranjang untuk tidak melewatkan kenikmatan tubuhnya yang menawarkan sejuta gairah kepadaku. Dan kembali puncak orgasme bersama siang itu kami nikmati lagi demikian puasnya.

Tubuh wanita ini memang luar biasa. Aku benar-benar beruntung mendapatkannya. Masih telanjangbulat Nani berjalan menuju kamar mandi. Tak lepas mataku menatapnya.
"Kenapa, Mas.." Nani merasa aku memandangnya dengan tatapan yang begitu terpesona.
"Nani memang indah kalau lagi telanjang begitu.." kataku sambil berganti menatap dada dan bagian bawah perutnya.
"Mas ini dasar memang nakal. Sudahlah.. Mas bersih-bersih dulu baru istirahat.."
Kamar tidur Nani dekat dengan kamar mandi. Di kamar mandi kami saling membersihkan, Nani menyabun tubuhku sementara aku mengguyur tubuhnya, lalu gantian. Ahh, nikmat dan mesra sekali.

Bersambung . . . . .

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar